Kondisi masyarakat,terutama kalangan muda-mudi (yah,sebutlah antara umur 14-22) yaitu kalangan anak SMA dan Kuliah terjadi perubahan budaya. Hal-hal yang dulu dianggap tabu segera menjadi sebuah kebiasaan dan hal yang merupakan rahasia umum.Hal itu adalah Seks Di Luar Nikah. Banyak sekali remaja yang sudah pernah mencicipi rasanya “hubungan suami-istri” padahal mereka belum terikat dalam ikatan pernikahan sama sekali.
Kita lihat kondisi di Yogyakarta. Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan-Pusat Pelatihan Bisnis Humaniora (LSC & KK-Pusbih) melakukan penelitian selama tiga tahun (1999-2002). Penelitian melibatkan 1.600 mahasiswi berstatus indekos dari 16 PTN/PTS di Yogyakarta sebagai responden. Usia mereka berkisar 17-23 tahun.Hasil survei menyebutkan, 97,05 persen responden terbukti sudah tidak perawan. Sebanyak 2,77 persen mengaku pernah bercumbu dengan pacarnya, atau melakukan masturbasi. Sisanya, 0,18 persen tidak pernah terlibat hubungan seks.
Hal ini merupakan sebuah kejadian yang amat memprihatinkan yang menandakan adanya kemerosotan budaya yang akhirnya akan menuju ke budaya barat. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh media televisi dengan sinetron dan film-film yang ditayangkannya. Pengaruh media dan televisi ini sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan barat, melalui observational learning, mereka melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima di lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka, terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta norma-norma dalam lingkungan masyakarat yang berbeda. Sinetron-sinetron sekarang juga banyak sekali yang mengangkat cerita tentang seks pranikah,yang sampai menyebabkan pihak perempuan hamil dan akhirnya menuntut pertanggungjawaban pihak pria. Pihak pria bisa saja menanggapi permintaan perempuan,tapi bisa saja tidak mempedulikannya dan menyangkal dengan dalih bahwa pihak wanita tidak hanya melakukan seks dengannya saja. Nilai-nilai inilah yang banyak diadopsi oleh sinetron dan film-film jaman sekarang. Dan nilai-nilai ini secara psikologi akan mempengaruhi pemikiran-pemikiran remaja yang menontonnya,melihat sekarang rata-rata remaja menonton televisi 3 jam sehari.
Jadi,pengaruh televisi sangat besar terhadap perubahan budaya dalam masyarakat.
Seks adalah Candu. Sekali orang sudah pernah melakukan seks,mereka akan kecanduan atau ingin mencoba lagi.Bagi yang sudah menikah,hal ini tidak masalah,karena hubungan tersebut halal.Tetapi,bagi remaja-remaja yang belum menikah hal ini hukumnya jelas saja haram.
Solusi yang bisa dilakukan antara lain adalah dengan menghilangkan tayangan-tayangan semacam itu.Ketika seks pranikah ini sudah terjadi, maka hal yang perlu dilakukan orang tua adalah komunikasi interaktif dengan sang anak,sehingga terjalin keterbukaan. Pendekatan dari hati ke hati penting dalam hal ini.Jangan menjadikan anak menjadi pihak “tertuduh”. Kita bisa belajar dari cara Mahatma Gandhi dalam mendidik anak.
Suatu hari anaknya berbohong kepada Gandhi, dengan mengaku terlambat menjemput karena mobil masih diperbaiki di bengkel. Padahal sebenarnya mobil itu dipakai anaknya nonton bioskop terlebih dulu.
Gandhi berfikir dan bertanya dalam hati, ”Adakah aku salah dalam mendidik anakku?” Akhirnya dia pulang berjalan kaki, tak mau naik mobil anaknya. Saat itulah anaknya sadar bahwa ia telah berbohong kepada ayahnya. Apa yang dicontohkan Gandhi adalah: mendidik anak tidak harus dengan kekerasan, tetapi menggunakan heart approach (pendekatan hati).